Senin, 27 April 2015

Tujuan Ilmu Budaya Dasar

                            Tujuan IBD
                Tujuan matakuliah Ilmu Budaya Dasar adalah untukmengembangkan kepribadian dan wawasan pemikiran, khususnya berkenaan dengan kebudayaan, agar daya tangkap, persepsi dan penalaran mengenai lingkungan budaya.mahasiswa dapat menjadi lebih halus.

                Secara umum tujuan IBD adalah Pembentukan dan pengembangan keperibadian serta perluasan wawasan perhatian, pengetahuan dan pemikiran mengenai berbagai gejala yang adadan timbul dalam lingkungan, khususnya gejala-gejala berkenaan dengan kebudayaan dankemanusiaan, agar daya tanggap, persepsi dan penalaran berkenaan dengan lingkungan budaya dapat diperluas.

Jika diperinci, maka tujuan pengajaran llmu Budaya Dasar itu adalah:
  • Lebih peka dan terbuka terhadap masalah kemanusiaan dan budaya, scrta lebih bertanggung jawab terhadap masalah-masalah tersebut.
  • Mengusahakan kepekaan terhadap nilai-nilai lain untuk lebih mudah menyesuaikan diri.
  • Menyadarkan mahasiswa terhadap nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, hormatmenghormati serta simpati pada nilai-nilai yang hidup pada masyarakat.
  • Mengembangkan daya kritis terhadap persoalan kemanusiaan dan kebudayaan.
  • Memiliki latarbelakang pengetahuan yang cukup luas tentang kebudayaan Indonesia.
  • Menimbulkan minat untuk mendalaminya.
  • Mendukung dan mcngcmbangkan kebudayaan sendiri dengan kreatif.
  • Tidak terjerumus kepada sifat kedaarahan dan pengkotakan disiplin ilmu.
  • Menambahkan kemampuan mahasiswa untuk mcnanggapi masalah nilai-nilai budayadalam masyarakat Indonesia dan dunia tanpa terpikat oleh disiplin mereka.
  • Mempunyai kesamaan bahan pembicaraan, tempat berpijak mengenai masalahkemanusiaan dan kebudayaan.
  • Terjalin interaksi antara cendekiawan yang berbeda keahlian agar lebih positif dankomunikatif.
  • Menjembatani para sarjana yang berbeda keahliannya dalam bertugas menghadapimasalah kemanusiaan dan budaya.
  • Memperlancar pelaksanaan pembangunan dalam berbagai bidang yang ditangani oleh berbagai cendekiawan.
  • Agar mampu memenuhi tuntutan masyarakat yang sedang membangun
  • Agar mampu memenuhi tuntutan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dharma pendidikan.
                       MASALAH KEMANUSIAAN

a. Kemiskinan
Kemiskinan merupakan salah satu masalah kemanusiaan yang tidak pernah ada habisnya. Angka kemiskinan yang selalu meningkat berdampak kepada kecemburuan sosial yang dialami dalam masyarakat kita sehingga hal ini mengakibatkan adanya jurang pemisah antara si miskin dengan si kaya.
* Upaya Yang Perlu Dilakukan ?
Adanya pemberian subsidi yang tepat bagi masyarakata dengan jalan menciptakan lapangan pekerjaan untuk sehingga mereka pun juga bisa menjadi manusia yang produkif yang dapat menghasilkan sesuatu sehingga tingkat kemiskinan dari pengangguran pun dapat berkurang.


b. Korupsi
Korupsi sudah bukan merupakan suatu hal yang dianggap tabu oleh masyarakat karena korupsi secara terang-terangan sering terjadi di negara kita.
Mengapa korupsi susah untuk dibrantas ?
Karena baik para birokrat maupun masyarakatnya sendiri sudah terbiasa melakukan hal tersebut dan bahkan sudah menjadi kebudayaan yang negatif.
• Upaya Yang Perlu Dilakukan ?
Adanya penuntasan korupsi sampai ke akar-akarnya. Dan pemberian sanksi hukum yang tegas tanpa melihat apakah dia orang penting atau tidak, kaya atau miskin dan sebagainya. Mungkin hal ini dapat meminimalisir angka korupsi di Indonesia.


c. Kebijakan Konversi Minyak Tanah Ke Gas Elpiji

Kelangkaan minyak tanah yang terjadi beberapa waktu yang lalu mendorong pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan ini. Hal ini dilakukan agar masyarakat sekitar tidak mengalami kesulitan dalam menemukan bahan bakar untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Tetapai kebijakan ini juga mengalami hambatan seperti minimnya pengetahuan masyarakat mengenai cara pemakaian gas dan lain sebagainya.
* Upaya Yang Perlu Dilakukan ?
Pemerintah harus memberikan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat mengenai cara pemakaian gas agar masyarakat tidak bingung untuk menggunakannya serta dapat proaktif terhadap usaha pemerintah untuk mengkonversikan Gas Elpiji.
Dan juga pemberian gas harus diperhatikjan agar tidak salah sasaran.


    

                       Masalah Budaya Indonesia

1. KURANGNYA REGENERASI
Jarang sekali generasi muda yang mau "nguri-uri" budaya  sehingga dikhawatirkan bila tidak diadakan regenerasi maka kedepannya generasi muda tidak mengenal lagi kebudayaan bangsa sendiri

2. KURANGNYA RASA MEMILIKI
Masih ingat peristiwa Malaysia yang ingin mematenkan reog, tari tor - tor, batik, dll? Bagaimana reaksi kita saat itu? marah, emosi, geram? mengapa perasaan seperti itu baru muncul setelah negara tetangga tersebut ingin mengklaim budaya yang selama ini menjadi milik kita? Karena kurangnya rasa memiliki sehingga kita cenderung menyepelekan budaya yang telah kita miliki

3. KURANGNYA PENGHARGAAN DARI PEMERINTAH
Harus diakui bahwa pemerintah kita kurang memperhatikan budaya Indonesia. Para pelaku serta pemerhati dunia budaya masih kurang mendapatkan apresiasi dari pemerintah sehingga bisa dikatakan bahwa budaya masih menjadi prioritas kesekian dari jumlah daftar prioritas bagi pemerintah. Ini terlihat dari minimnya anggaran yang disediakan pemerintah untuk program - program budaya Indonesia

4. KONSEP PELESTARIAN BUDAYA YANG KURANG TEPAT
Melestarikan budaya tidak berarti hanya melakukan sesuatu demi tetap adanya sebuah budaya tersebut, tetapi lebih dari itu. Pelestarian budaya sangat berhubungan dengan regenerasi dan sikap memiliki. Karena tanpa kedua hal tersebut, mustahil pelestarian budaya bisa dilakukan dengan maksimal

5. MASYARAKAT YANG TERLALU MUDAH MENYERAP BUDAYA LUAR
Bisa dibilang generasi muda sekarang lebih menyukai film box office bila dibanding dengan menonton wayang semalam suntuk. Remaja sekarang lebih senang mengenakan baju model Korea bila dibanding mengenakan batik ataupun kebaya. Ini terjadi karena masih adanya anggapan bahwa keren = luar negeri sehingga budaya - budaya dari luar negeri lebih mudah diserap oleh masyarakat Indonesia

6. SARANA DAN PRASARANA
Setengah dari hambatan yang ada yaitu karena minimnya sarana dan prasarana yang ada. Tanpa hal tersebut akan sulit melestarikan budaya kita.

*Upaya Yang Harus Dilkakukan ?
Sarana dan Prasarana ini harus lebih ditingkatkan lagi oleh pemerintah agar upya pelestarian dapat dilakukan dengan baik.


7. MINAT YANG KURANG

Setengah hambatan budaya yaitu minat yang kurang dari masyarakatnya sendiri. Kurangnya pengembangan program cinta tanah air mengakibatkan kurangnya minat untuk melestarikan budaya bangsa yang ada.
*Upaya Yang Perlu Dilakukan ?
Pemerintah harus lebih mengembangkan program cinta budaya tanah air kepada generasi muda saat ini agar terciptanya peningkatan minat dalam mempelajari dan melestarikan budaya yang sudah turun-temurun dimiliki oleh bangsa kita.








Selasa, 21 April 2015

Suku Koto

                           SUKU MINANG
              
           
                             SUKU KOTO

     Suku koto merupakan satu dari dua klan induk dalam suku Minangkabau. Suku minangkanbau memiliki dua klan (suku dalam bahasa orang minang) yaitu Klan/suku KotoPiliang dan Klan/suku Bodi Chaniago.

Asal Usul Suku Koto
     A.A. Navis dalam bukunya berjudul Alam Terkembang Jadi Guru menyatakan bahwa nama suku Koto berasal dari kata 'koto' yang berasal dari bahasa Sanskerta 'kotta' yang artinya benteng, dimana dahulu benteng ini terbuat dari bambu. di dalam benteng ini terdapat pula pemukiman beberapa warga yang kemudian menjadi sebuah 'koto' yang juga berarti kota, dalam bahasa Batak disebut 'huta' yang artinya kampung. Dahulu Suku Koto merupakan satu kesatuan dengan Suku Piliang tapi karena perkembangan populasinya maka paduan suku ini dimekarkan menjadi dua suku yaitu suku Koto dan suku Piliang. Suku Koto dipimpin oleh Datuk Ketumanggungan yang memiliki aliran Aristokratis Militeris, dimana falsafah suku Koto Piliang ini adalah "Manitiak dari Ateh, Tabasuik dari bawah, batanggo naiak bajanjang turun" Datuk Ketumanggungan gadang dek digadangan "Besar karena diagungkan oleh orang banyak),                           Datuk Ketumanggungan adalah gelar salah seorang tokoh legendaris penyusun adat Minangkabau]. Sistem adat yang disusun Datuk Ketumanggungan ini dikenal juga dengan nama kelarasan Koto Piliang. Sedangkan di Malaysia dan Singapura, sistem ini dikenal sebagai Adat Temenggong.

sedangkan Datuk Perpatih Nan Sebatang "tagak samo tinggi, duduak samo randah" Suku K. Datuk Perpatih Nan Sebatang adalah gelar seorang tokoh legendar penyusun adat Minangkabau. Sistem adat yang disusun Datuak Parpatih Nan Sabatang ini dikenal juga dengan nama kelarasan Bodi Caniago.

Gelar Datuk Suku Koto

Di antara gelar datuk Suku Koto adalah :
Pemekaran
Suku ini mengalami pemekaran menjadi beberapa pecahan suku yaitu:
·         Tanjung Koto
·         Koto Piliang di nagari Kacang, Solok
·         Koto Dalimo,
·         Koto Diateh,
·         Koto Kaciak,
·         Koto Kaciak 4 Paruik di Solok Selatan
·         koto Tigo Ibu di Solok Selatan
·         Koto Kampuang,
·         Koto Kerambil,
·         Koto Sipanjang
·         koto sungai guruah di Nagari Pandai Sikek (Agam)
·         koto gantiang di Nagari Pandai Sikek (Agam)
·         koto tibalai di Nagari Pandai Sikek (Agam)
·         koto limo paruik di Nagari Pandai Sikek (Agam)
·         koto rumah tinggi di nagari Kamang Hilir (Agam)
·         koto rumah gadang, di nagari Kamang Hilir (Agam)
·         kotosariak, di nagari Kamang Hilir (Agam)
·         koto kepoh, di nagari Kamang Hilir (Agam)
·         koto tibarau, di nagari Kamang Hilir (Agam)
·         koto tan kamang/koto nan batigo di nagari Kamang Hilir (Agam)
·         Koto Tuo di Kenegerian Paranap, Inderagiri Hulu
·         koto Baru di Kenegerian Paranap, Inderagiri Hulu
·         koto musajik di kenegerian sungai pua

Sumber: