Jumat, 01 April 2016

WAWASAN NUSANTARA DAN KETAHANAN NASIONAL

                               Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional


Wawasan Nusantara

          Wawasan nusantara adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan bentuk geografinya berdasarkanPancasila dan UUD 1945.[1][2] Dalam pelaksanannya, wawasan nusantara mengutamakan kesatuan wilayah dan menghargai kebhinekaan untuk mencapai tujuan nasional.

           Wawasan Nusantara justru bertujuan untuk mempertahankan wilayah. Sebagai negara kepulauan yang luas, Bangsa Indonesia beranggapan bahwa laut yang dimilikinya merupakan sarana “penghubung” pulau, bukan “pemisah”. Sehingga, walaupun terpisah-pisah, bangsa Indonesia tetap menganggap negaranya sebagai satu kesatuan utuh yang terdiri dari “tanah” dan “air”, sehingga lazim disebut sebagai “tanah air”.

Untuk mewujudkan integrasi tanah air serta mencapai tujuan Wawasan Nusantara maka dipakailah empat asas, yaitu:
1. Satu kesatuan wilayah :
a.       Satu wadah Bangsa Indonesia yang bersatu
b.      Satu kesatuan tumpah darah dengan bersatunya dan dipersatukan segala anugerah dan hakekatnya.

2. Satu kesatuan negara :
a.       Satu UUD dan politik pelaksanaannya

b.      Satu ideologi dan identitas nasional.

3. Satu kesatuan budaya :
a.       Satu perwujudan budaya nasional atas dasar Bhinneka Tunggal Ika;

b.      Satu tertib sosial dan tertib hukum.

4. Satu kesatuan ekonomi :
a.       Satu tertib ekonomi sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan;

b.      Seluruh potensi yang ada atau yang dapat diadakan, diselenggarakan secara total untuk mewujudkan suatu kesatuan sistem pertahanan keamanan, yang meliputi subyek, obyek dan metode.

Falsafah pancasila

Nilai-nilai pancasila mendasari pengembangan wawasan nusantara. Nilai-nilai tersebut adalah:
  • Penerapan Hak Asasi Manusia (HAM), seperti memberi kesempatan menjalankan ibadah sesuai dengan agama masing- masing.
  • Mengutamakan kepentingan masyarakat daripada individu dan golongan.
  • Pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat.

Fungsi Wawasan Nusantara:
  1. Wawasan nusantara sebagai konsepsi ketahanan nasional, yaitu wawasan nusantara dijadikan konsep dalam pembangunan nasional, pertahanan keamanan, dan kewilayahan.
  2. Wawasan nusantara sebagai wawasan pembangunan mempunyai cakupan kesatuan politik, kesatuan ekonomi, kesatuan sosial dan ekonomi, kesatuan sosial dan politik, dan kesatuan pertahanan dan keamanan.
  3. Wawasan nusantara sebagai wawasan pertahanan dan keamanan negara merupakan pandangan geopolitik Indonesia dalam lingkup tanah air Indonesia sebagai satu kesatuan yang meliputi seluruh wilayah dan segenap kekuatan negara.
  4. Wawasan nusantara sebagai wawasan kewilayahan, sehingga berfungsi dalam pembatasan negara, agar tidak terjadi sengketa dengan negara tetangga
Tujuan Wawasan Nusantara
Tujuan wawasan nusantara terdiri dari dua, yaitu:
  1. Tujuan nasional, dapat dilihat dalam Pembukaan UUD 1945 dijelaskan bahwa tujuan kemerdekaan Indonesia adalah "untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial".
  2. Tujuan ke dalam adalah mewujudkan kesatuan segenap aspek kehidupan baik alamiah maupun sosial, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan bangsa Indonesia adalah menjunjung tinggi kepentingan nasional, serta kepentingan kawasan untuk menyelenggarakan dan membina kesejahteraan, kedamaian dan budi luhur serta martabat manusia di seluruh dunia.

Ketahanan Nasional

            Ketahanan Nasional adalah suatu kondisi dinamis suatu bangsa yang terdiri atas ketangguhan serta keuletan dan kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi segala macam dan bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun luar, secara langsung maupun yang tidak langsung yang mengancam dan membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara.

            Konsepsi ketahanan nasional adalah keseimbangan dan keserasian dalam kehidupan sosial melingkupi seluruh aspek kehidupan secara utuh menyeluruh berlandaskan falsafat bangsa, ideologi negara, konstitusi dan wawasan nasional dengan metode Astagatra. Ketahanan Nasional mempunyai aspek utama, yaitu Kesejahteraan dan Keamanan. Kesejahteraan dan

            Keamanan adalah dua aspek dari Ketahanan Nasional yang dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan. Sebab itu, mengusahakan terwujudnya Ketahanan Nasional hakikatnya merupakan satu proses membentuk Kesejahteraan dan Keamanan buat negara dan bangsa. Ketahanan Nasional hanya dapat terwujud kalau meliputi seluruh segi kehidupan bangsa yang biasanya kita namakan aspek sosial kehidupan, meliputi Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Hankam. Juga meliputi aspek alam , yaitu Geografi, Penduduk dan Kekayaan Alam. Di lingkungan Lembaga Ketahanan Nasional seluruh segi kehidupan bangsa itu dinamakan Asta Gatra, terdiri dari Panca Gatra (Sosial) dan Tri Gatra (Alam).

  a.       Bentuk-bentuk Ancaman Ketahanan Nasional
Ancaman di dalam negeri contohnya adalah pemberontakan dan subversi yang berasal atau terbentuk dari masyarakat Indonesia. Ancaman dari luar negeri contohnya adalah infiltrasi, subversi dan intervensi dari kekuatan kolonialisme dan imperialisme serta invansi dari arat, udara dan laut oleh musuh dari luar negeri.

  b.      Asas-asas Ketahanan Nasional
Asas ketahanan nasional adalah tata laku yang didasari nilai-nilai yang tersusun berlandaskan Pancasil, UUD 1945 dan Wawasan Nusantara. Asas-asas tersebut meliputi :

  •  Asas kesejahteraan dan keamanan. Didalam kehidupan nasional berbangsa dan bernegara, unsur kesejahteraan dan keamanan ini biasanya menjadi tolak ukur bagi mantap atau tidaknya ketahanan nasional.
  • Asas menyeluruh terpaduArtinya, ketahanan nasional mencakup seluruh aspek kehidupan. Aspek-aspek tersebut berkaitan dalam bentuk persatuan dan perpaduan secara selaras, serasi, dan seimbang.
  • Asas kekeluargaanBersikap keadilan, kebersamaan, kesamaan, gotong royong, tenggang rasa dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat,berbangsa dan bernegara.
            Kita harus bersama-sama mewujudkan ketahanan nasional karena dengan ketahanan nasional kita telah berhasil mengatasi semua ancaman di masa lampau sehingga Republik Indonesia selamat dari segala ancaman. Dan di masa depan ketahanan nasional harus selalu kita pelihara agar dapat mencegah timbulnya ancaman baru. Meskipun begitu tantangan-tantangan baru terus timbul dan harus kita atasi.

Hubungan antara Wawasan Nusantara dengan Ketahanan Nasional
Dalam perjuangan mencapai cita-cita/tujuan nasionalnya bangsa Indonesia tidak terhindar dari berbagai ancaman-ancaman yang kadang-kadang membahayakan keselamatannya. Cara agar dapat menghadapi ancaman-ancaman tersebut, bangsa Indonesia harus memiliki kemampuan, keuletan, dan daya tahan yang dinamakan ketahanan nasional.
Wawasan nasional bangsa Indonesia adalah wawasan nusantara yang merupakan pedoman bagi proses pembangunan nasional menuju tujuan nasional. Sedangkan ketahanan nasional merupakan kondisi yang harus diwujudkan agar proses pencapaian tujuan nasional tersebut dapat berjalan dengan sukses. Oleh karena itu, diperlukan suatu konsepsi ketahanan nasional yang sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia. Dengan adanya wawasan nusantara, kita harus dapat memiliki sikap dan perilaku yang sesuai kejuangan, cinta tanah air serta rela berkorban bagi nusa dan bangsa. Dalam kaitannya dengan pemuda penerus bangsa hendaknya ditanamkan sikap wawasan nusantara sejak dini sehingga kecintaan mereka terhadap bangsa dan negara lebih meyakini dan lebih dalam. Diyakini keberhasilan pembangunan akan meningkatkan ketahanan nasional yang tangguh dan ketahanan nasional akan mendorong pembangunan nasional yang ke arah semakin baik.
Jadi, marilah kita sadarkan diri kita masing – masing untuk membangun Indonesia yang kita cintai menjadi negara yang bermartabat dan memiliki moral yang baik di hadapan negara lain. Serta sudah saatnya kita sebagai rakyat Indonesia sadar untuk mematuhi semua peraturan – peraturan yang diberlakukan di mana saja. Karena majunya sebuah bangsa dan negara tergantung oleh rakyatnya masing – masing

Sumber:
http://www.kompasiana.com/ronijohnmartin/wawasan-nusantara-dengan-ketahanan- nasional_552e45a96ea834d1368b459f

Negri Van Oranje

                                                           Negri Van Oranje
                              Ilmu, Persahabatan, dan Cinta




Tayang     :   23 Desember 2015
Genre       :   Adventure
Sutradara:   Endri Pelita
Produksi  :   Falcon Pictures & Mata Hari Media
Produser  :  Wiwit Susilawati, Annika Kuyper
Penulis     :   Adept Widiarsa, Titien Wattimena, Raden Wahyuningrat, Annisa Rijadi, Rizki Pandu                           Permana
Pemain     :   Arifin Putra, Chicco Jerikho, Tatjana Saphira, Abimana Aryasatya, Ge Pamungkas

Sinopsis:
Film Negeri Van Oranje berkisah tentang lima orang mahasiswa asal Indonesia yang menimba ilmu di Belanda. Lintang (Tatjana Saphira), Banjar (Arifin Putra), Wicak (Abimana Aryasatya), Daus (Ge Pamungkas), dan Geri (Chicco Jerikho) adalah mahasiswa asal Indonesia yang sedang mengejar studinya di Belanda. Mereka secara tak terduga saling bertemu dan bersahabat.
Sejak bersahabat, Kelimanya mulai saling berbagai tawa dan juga kepedihan bersama-sama. Masalah kemudian muncul ketika keempat sahabat itu mulai memperebutkan Lintang. Pada saat yang sama, hubungan Lintang dengan pacara Belanda-nya terancam bubar, karena dia juga menaruh perasaan kepada salah satu temannya. Persahabatan pun berubah menjadi rumit dan hubungan mereka diuji!!

Review:
            Dari segi pemain, seperti biasa produksi Falcon Pictures diramaikan dengan jajaran pemain yang  populer. Kali ini giliran Chicco Jerikho, Tatjana Saphira, Arifin Putra, Ge Pamungkas, termasuk Abimana Aryasatya, aktor langganannya. Dua nama di atas sudah tidak diragukan lagi kepiawaiannya dalam berakting, namun bagaimana dengan lainnya? Tatjana, Arifin, dan Ge Pamungkas berperan tidak kalah dengan mereka berdua. Bisa dibilang film inilah yang kolaborasi aktingnya sangat harmonis satu sama lain, tidak timpang  layaknya film-film produksi Falcon Pictures dalam dua tahun terakhir.
            Kelihaian akting peraih Piala Citra 2014 ini tertuang dengan baik, Chicco mampu menyembunyikan rapat-rapat rahasia kepribadian karakter Banjar. Bila berharap, aktingnya begitu lepas  dan menonjol seperti karakternya dalam film Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi dan A Copy of My Mind di sini tidak terlihat, karena ia harus rela berbagi porsi dengan pemain lainnya. Abimana masih berkutat dengan karakter cool-nya, namun bukan berarti kualitas aktingnya menurun. Dengan mudah aktor kelahiran 33 tahun silam ini menguasai karakter Wicak.  Lewat aktingnya yang cukup memukau, pemeran Elang dalam filmBelenggu ini mampu mencuri perhatian. Misalnya saat ia berdialog dengan rekan mainnya, Lintang. “Cukup dengan satu kejadian, cukup satu,” sepintas sepotong dialog ini tidak begitu istimewa, terlebih bagi yang belum menonton, namun dengan akting dan jalan cerita yang lumayan baik membawa dialog ini menjadi salah satu adegan yang berkesan, sekaligus merupakan kunci cerita. Sementara itu, Tatjana, walau pendatang baru, ia bisa mengimbangi akting seniornya. Dengan kata lain kecantikannya tidak hanya di parasnya, namun juga terletak di aktingnya. Sedangkan, Ge Pamungkas dan Arifin melengkapi dengan karakter lucu dan konyolnya yang mampu melahirkan gelak tawa.
            Di lain sisi, meskipun berlatar di Belanda, film ini tidak menyentuh persoalan sejarah kelam antara Indonesia dan Belanda. Film yang berdurasi  sekitar 90 menit ini asyik menyuguhkan tentang  persahabatan dan perebutan Lintang dengan cara yang anggun. Tidak salah memang dengan hal itu, namun  terasa ada bagian yang hilang. Di samping itu, film ini pun lebih kental persahabatannya,  bahkan hampir lupa bila ada persaingan cinta di dalamnya. Maka itu, tidak heran bila kemudian konflik yang dibangun tidak sekuat biaya produksi yang digelontorkan, karena film ini terlena dengan menghadirkan keindahan berbagai kota di negeri tersebut,  sebatas jalan-jalan yang dibalut romansa di dalamnya.  Selain itu, para pemain pun seakan menjadi  guide, menuntun penonton layaknya turis dadakan, yang pada akhirnya menjadikan film ini bagaikan cerita dalam negeri dongeng, persis seperti yang dinarasikan oleh Lintang (Tatjana) di awal film
             Terlepas dari itu, film yang bercerita tentang lima orang Indonesia yang kuliah di Belanda ini tetap menjadi tontonan yang menghibur dan menarik,  karena selain sedikit menggambarkan tentang kiat mahasiswa yang harus bertahan hidup di negeri orang, film ini bisa juga sebagai salah satu referensi untuk yang ingin melanjutkan kuliah atau berlibur di sana. Offer all, Negeri Van Oranje menjadi salah satu film Indonesia terbaik 2015.