Jumat, 30 Maret 2018

BAB I Konservasi Arsitektur


BAB I

PENDAHULUAN



1.1  Latar Belakang
        Cagar budaya merupakan kekayaan budaya yang penting demi memupuk kesadaran jati diri bangsa dan mempertinggi harkat dan martabat bangsa, serta memperkuat ikatan rasa kesatuan dan persatuan bagi terwujudnya cita-cita bangsa pada masa depan. Definisi dari Cgar Budaya diatur dalam bab I ketentuan umum Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, yaitu bahwa Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan mealui proses penetapan.

      Sebagai kota yang penuh menyimpan sejarah, DKI Jakarta memiliki banyak bangunan cagar budaya. Terutama sejumlah bangunan di kawasan Menteng. Namun banyak yang beralih fungsi menjadi tempat usaha. Mengenai bangunan cagar budaya yang dialihfungsikan menjadi tempat usaha seperti restoran, galeri atau butik, merupakan hal yang wajar. Namun bukan berarti si pemilik bebas melakukan perubahan-perubahan terhadap bangunan bersejarah tersebut. Para pemilik harus mengetahui masuk dalam kategori apa bangunan cagar budaya yang mereka miliki.

      Tugu Kunstkring Paleis, adalah restaurant yang terletak di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Restaurant ini memiliki fasad bangunan bermotif colonial Belanda berpaduan dengan khas China, dapat dilihat dari segi eksterior maupun interiornya. Selain terdapat restaurant, bangunan ini juga menyediakan gallery yang bernama Kunstkring Art Gallery.

      Keberadaan gedung Tugu Kunstkring Paleis ini tidak terlepas dari adanya pembangunan perumahan kelas menengah ke atas di kawasan Menteng (sebelumnya dikenal dengan Nieuw Gondangdia) pada era Hindia Belanda. Kisah ini bermula ketika NV De Bouwploeg dipercaya untuk mengerjakan proyek real estate yang pertama di Hindia Belanda. Bouwmaatschappij NV De Bouwploeg yang dipimpin oleh Pieter Adriaan Jacobus (P.A.J.) Moojen adalah instansi penggarap perumahan di Menteng. Moojen merencanakan tata kota serta wilayah yang dibangun dalam pembangunan wilayah Menteng. Wilayah yang pertama kali dibangun adalah gedung kantor NV De Bouwploeg (sekarang menjadi Masjid Cut Meutia), baru disusul pembanguna gedung Bataviasche Kunstkring.

      Gedung kuno tersebut mulai dibangun pada 1913, setelah NV De Bouwploeg menghibahkan sebidang tanah yang strategis di EntrĂ©e Gondangdia yang baru saja dikembangkan. Lahan tersebut diberikan karena Moojen di samping mengerjakan tugasnya sebagai seorang arsitek maupun planolog, ia juga banyak bergaul dengan seniman dan pecinta seni di Batavia. Bersama-sama kawan-kawanya, pada 1907, dia mendirikan Lingkar Seni Hindia Belanda (Nederlandsch Indische Kunstkring). Tiga tahun pertama, Moojen menjadi sekretaris perkumpulan tersebut. Empat belas tahun seterusnya, dia menjabat ketua.

      P.A.J. Moojen, selain ditunjuk oleh perkumpulan tersebut sebagai ketua sekaligus sebagai arsitek gedung tersebut. Gedung Bataviasche Kunstkring diresmikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Willem Frederik Idenburg pada 17 April 1914. Pada saat peresmian tersebut dibarengi dengan gelaran pameran pertama yang terdiri dari karya-karya pelukis Belanda yang lahir di Hindia Belanda. Ruang-ruang di gedung yang luas juga dipergunakan untuk pertunjukan musik dan ceramah. Buku-buku tentang kesenian dikumpulkan dalam perpustakaan khusus untuk melayani masyarakat yang berminat. Gedung ini lantas menjadi pusat berkumpulnya para pecinta seni amatir, untuk mengadakan pertunjukan musik, belajar seni, memamerkan karya mereka, atau sekadar mencari inspirasi.

      Sejarah juga mencatat, bahwa fungsi gedung ini pernah mengalami perubahan. Kunstkring berfungsi sebagai pusat seni berlangsung hingga tahun 1936. Ia sempat digunakan sebagai kantor pusat Madjlis Islam Alaa Indonesia (1942-1945) dan kemudian menjadi Kantor Imigrasi Jakarta Pusat (1950-1997), sebelum kemudian terkena ruilslag lalu berpindah kepemilikan ke tangan swasta. Saat pengalihan status ini, gedung ini sempat terbengkelai dan dijarah, lalu kembali dipugar dan diresmikan pada tahun 2007. Kemudian gedung ini pernah menjadi Budha Bar yang namanya sempat menjadi kontroversi dan diprotes oleh umat Buddha.

      Sejak April 2013, bangunan legendaris Bataviasche Kunstkring ini telah dibuka kembali dengan nama Tugu Kunstkring Paleis, dan dibawa kembali ke kehidupan awalnya menjadi gedung seni yang cantik oleh Tugu Hotels & Restaurant Group. Tanpa mengubah keindahan arsitekturnya, pengelola menyegarkan suasana dalam gedung melalui interior klasik yang megah dan mengisinya dengan koleksi karya seni yang indah. Hal ini untuk menciptakan suasana yang selaras dengan tujuan didirikan Tugu Kunstkring Paleis ini, yaitu seni, jiwa, dan romansa Indonesia.

      Kini, Tugu Kunstkring Paleis mampu menghadirikan gelaran pameran seni serta acara-acara lain dengan apresiasi yang tinggi terhadap keindahan seni dan sejarah. Gedung ini mampu menyelenggarakan acara dengan kapasitas hingga 1.000 orang yang dilengkapi shop. Tak hanya itu, pengunjung bisa menikmati masakan di restoran yang menempati lounge yang elegan, bread corner maupun tea house.

Bagian dalam restoran mewah dipenuhi dengan interior bergaya baroque dengan nuansa kerajaan yang mewah, klasik karena pengaruh unsur budaya Eropa dan Jawa. Dengan konsep fine dining restaurant, Tugu Kunstring Paleis memiliki area dining room yang luas lengkap dengan long table yang cocok untuk acara formal dan juga single table yang romantis. Dengan konsep dan nuansa restoran yang ada membuat kita serasa seperti Tamu Kerajaan. Selain area dining, di restoran ini juga terdapat ruang wine test dan juga galeri seni yang menyatu dengan restoran mewah ini. Pada bagian galeri seni bisa menemukan banyak benda-benda seni yang bisa dikoleksi dan tentunya untuk komersil.

1.2  Batasan Masalah
      Batasan masalahnya adalah mengidentifikasi sejarah kawasan, gambaran  kawasan, kondisi eksisting, langgam , fasad elemen arsitektural , material yang digunakan, warna bangunan, serta tindakan pelestarian bangunan Tugu Kunstkring Paleis, Menteng.

1.3  Rumusan Masalah
      Agar tidak menyimpang dari pokok pembahasan yang akan dibahas dan lebih memahami judul di  beberapa pertanyaan guna untuk membatasi pembahasan ini yaitu:
1.      Bagaimana bentuk fasade restoran Tugu Kuntskring Paleis ?
2.      Bagaimana gambaran kawasan sekitar bangunan Tugu Kuntskring Palleis?
3.      Bagaimana kondisi eksisting banguan Tugu Kuntskring Palleis?
4.  Bagaimana penerapan langgam, material yang digunakan, serta warna bangunan yang diterapkan pada bangunan Tugu Kuntsring Palleis?
5.    Langkah apakah yang harus dilakukan dalam melakukan pelestarian terhadap bangunan Tugu Kunstring Palleis?

1.4  Tujuan Penelitian

  •       Mengidentifikasi karakter fasade bangunan Tugu Kunstkring Paleis.
  • .         Melestarikan bangunan Tugu Kunstkring Paleis
  •      Mengetahui dan dapat menganalisa gaya arsitektur yang diterapkan pada bangunan Tugu Kuntskring Palleis.  

1.5  Sistematika Pembahasan/Penulisan
Secara garis besar penelitian arsitektur pada restoran Tugu Kunstkring Palleis dapat dijabarkan sebagai  berikut:
BAB 1                    PENDAHULUAN
Mengemukakan gambaran umum mengenai penelitian yang mencakup latar belakang, rumusan masalah, tujuan, dan sistematika penulisan.
BAB II                   KAJIAN PUSTAKA
Menguraikan landasan-landasan yang ada pada kajian pustaka mengenai bangunan Tugu Kuntskring Palleis. Kajian pustaka ini yang akan menunjang konservasi arsitektur.
BAB III                  GAMBAR KAWASAN
Menguraikan gambaran kawasan/building yang menjadi penelitian arsitektur mengenai keadaannya dilapangan seperti apa. Mengurikan mengenai metode penelitian secara detail hingga mencapai tujuannya.
BAB IV                  USULAN PELESTARIAN
Menguraikan mengenai usulan pelestarian bangunan Tugu Kuntskring Palleis. Usulan tersebut merupakan harapan kedepannya untuk bangunan tersebut.
BAB V                   KESIMPULAN
Membuat kesimpulan secara singkat dan padat mengenai latar belakang, uraian temuan dari konservasi yang telah dilakukan dan dilengkapi pula dengan saran-saran yang dapat membantu